Rukun Haji & Tata Caranya

Haji merupakan rukun Islam yang ke lima. Berbeda dengan ke 4 rukun Islam lainnya yang wajib dilaksanakan berdasarkan rukun haji dan tata caranya. Dengan syarat khusus yakni mampu. Mampu di sini dilihat dari segi biaya kendaraan, biaya hidup selama haji, biaya hidup keluarga yang ditinggalkan, mampu secara fisik dan batin.

Mampu secara batin ialah dapat menguasai pengetahuan terkait haji sepenuhnya. Maka karena itu, seorang muslim harus mengetahui syarat serta ketentuan haji dan tata cara pelaksanaannya. Adapun syarat-syarat haji antara lain: Islam, baligh, berakal, merdeka dan mampu.

Syarat-sayarat ini harus terpenuhi ketika seseorang hendak melaksanakan ibadah haji. Dengan begitu, haji yang dilakukan tersebut dapat bernilai dan syah serta siap. Pelaksanaan ibadah haji berada di bulan Dzulhijah. Setelah terpenuhinya syarat, maka para calon jamaah haji harus mengetahui rukun haji dan tata caranya.

Rukun Haji

  • Ihram

Ihram adalah rukun pertama yang harus dijalankan oleh para jamaah haji. Pada rukun ini para jaamaah haji meniatkan diri untuk melaksanakan kewajiban dengan sebenar-benarnya. Ketika Ihram, para jamaah diharuskan menggunakan pakaian ihram baik untuk perempuan maupun laki-laki.

Adapun ketentuan pakaian ihram bagi laki-laki adalah terbuat dari kain putih yang bersih dan suci tanpa adanya jaitan. Jadi hanya dililitkan saja dan ketika ihram tidak diperkenankan menggunakan penutup kepala. Begitu juga bagi perempuan ialah menggunakan pakaian putih yang menutupi seluruh badannya terkecuali pada bagian tangan dan wajah.

Oleh karena itu, ketika melaksanakan ibadah haji, tidak diperbolehkan menggunakan penutup wajah dan sarung tangan. Mengawali ibadah haji dengan niat adalah suatu ketentuan yang pasti. Artinya, tanpa disertai dengan niat yang tulus dan ikhlas maka ibadah tersebut akan percuma. Apabila niatnya sudah berbeda, maka seterusnya apa yang diajalankan hanyalah kemauannya tanpa dasar yang jelas.

  • Wukuf di Padang Arafah

Setalah melaksanakan Ihram, pada tanggal 9 Dzulhijah para jamaah haji menjalankan wukuf atau berdiam diri di padang Arafah dengan disertai Dzikir dan berdo’a. Pelaksanannya dimulai dari tenggelamnya matahari hingga terbitnya fajar atau semalam pada malam tanggal 10 Dzulhijah.

Pada ketika wukuf, para jamaah harus benar-benar melaksanakannya dengan khusu’ dan dengan menyebut nama Allah, mengagungkan-Nya. Selain itu adalah waktu yang mulia untuk memohon ampun kepada-Nya, memohon segala bentuk pertolongan agar dimudahkan segala urusannya, serta bersyukur atas nikmat yang telah diberikan oleh-Nya.

Tidak ada jurang pembatas kelas sosial, karena pada dasarnya semua di hadapan Allah adalah sama-sama makhluk. Baik itu orang yang dianggap pentingpun melakukan hal yang sama, berkumpul dan membaur bersama.

  • Tawaf Ifadah

Thawaf Ifadah adalah mengelilingi kabah sambil membaca talbiyah sebanyak 7 kali dari posisi sebelah kiri Kakbah. Thawaf ini dilaksanakan di tanggal 10 Dzulhijah, dimulai dari Hajar Aswad. Pada tanggal ini, semua orang Islam di seluruh dunia melaksanakan shalat hari raya ‘Idhul Adha.

Pada tanggal ini pula Nabi Irahim a.s hendak melaksanakan perintah untuk menyembelih putranya, Nabi Ismail, akan tetapi Allah Yang Maha Kuasa menurunkan seekor domba jantan. Maka Nabi Ismail tidak jadi disembelih, sungguh Allah Maha Segalanya dengan segala Dzat-Nya. Maka dari itu, beserta dengan hari raya ‘Idul Adha diharuskan melaksanakan Qurban dengan menyembelih hewan yang sudah ditentukan.

Sebagai bagian dari rukun, maka thawaf tidak bisa ditinggalkan dan tidak bisa digantikan atau diwakilkan oleh siapapun. Maka oleh karena itu kondisi kesehatan yang disebut mampu di atas harus tetap dijaga. Terutama kondisi cuaca Makkah yang tidak menentu serta ekstrim.

  • Sa’i

Sa’i adalah berlari-lari kecil dengan menyebut nama Allah SWT dari bukit Shafa dan Marwah sebanyak 7 kali putaran. Sa’i ini dilakukan setelah menjalankan ibadah Thawaf Ifadah. Menurut sejarah, kedua bukit tersebut merupakan bukit dimana Siti Maryam mencari sumber air dengan menggendong putranya Nabi Isa as.

Pada waktu itu, Siti Maryam bolak-balik mencari setengguk air untuk putranya yang kehausan. Dengan izin Allah munculah sumber air yang sampai kapanpun tidak akan habis yang dinamakan zam-zam. Pelajaran yang dapat kita ambil adalah melakukan segala sesuatu harus dilaksanakan dengan usaha atau ikhtiar, selebihnya berdo’a karena Allah yang akan menentukan.

  • Tahallul

Tahallul merupakan mencukur atau memotong rambut setelah melaksanakan ibadah Sa’i, sedikitnya 3 helai. Maka tidak jarang, ketika selesai melaksanakan ibadah haji dan jamaah laki-laki pulang ke negaranya masing-masing dalam keadaan gundul. Hal yang bisa kita ambil dalam kegiatan ini adalah menunjukan bahwa ibadah haji dilaksanakan dengan membersihkan seluruh asmani dan rohani kita.

Sebelum menjalankan serangkaian ibadah sebelum Tahallul maka dilarang keras untuk semua jamaah mencukur rambutnya atau menggunting kukunya. Jika melakukan di waktu Tahallul akan melanggar satu rukun dan ibadahnya dianggap tidak sah.

  • Tertib

Tertib adalah mengerjakan rukun-rukun haji secara urut, dengan begitu tidak ada satupun rukun yang boleh ditinggalkan. Walaupun dalam keadaan apapun, semua rukun harus lengkap dan urut. Jika tidak urut maka hukumnya adalah tidak syah dan ibadahnya haus diulang di tahun depan.

Mengapa demikian? Karena waktu ibadah haji hanya bisa dilakukan di bulan haji atau bulan Dzulhijah. Jika dilaksanakan di bulan-bulan biasa, buka dinamakan haji melainkan ibadah umrah. Bedanya hanya pada wukuf, dimana Umrah tidak adanya wukuf sebagai rangkaian ibadah haji.

Selain menjalankan rukun-rukun haji tersebut, maka hal lain yang harus dipahami adalah wajib haji, sunnah haji dan larangan haji. Berikut ini beberapa wajib haji yang harus dilakukan oleh jamaah haji diantaranya adalah:

  • Niat Ihram dari miqat makani, yang dilaksanakan setelah memakai pakaian ihram.
  • Bermalam (Mabit) di Muzdalifah pada tanggal 9 dzulhijah
  • Melempar Jumrah Aqabah atau melempar 7 batu kerikil pada tanggal 10 Dzulhijah dengan membaca do’a.
  • Bermalam di Mina pada hari-hari tasyrik yaitu tanggal 11, 12, 13 Dzulhijah.
  • Melempar jumrah Ula, Wustha, Aqobah
  • Melaukan Thawaf Wada, ata thawaf perpisahan sebelum kembali ke negaranya masing-masing.
  • Meninggalkan perbuatan yang dilarang saat ihram haji.

Adapun Sunnah-sunnah haji antara lain adalah sebagai berikut:

  • Melaksanakan haji ifrad yaitu melaksanakan ibadah haji terlebih dahulu baru melaksanakan ibadah umrah.
  • Mandi ketika hendak melaksanakan ihram
  • Membaca do’a setelah talbiyah
  • Melakukan thawaf qudum atau tawah pertama ketika baru saja sampai di Masjidil Haram
  • Melaksanakan shalat dua rakaat setelah tawaf

Sedangkan beberapa larangan haji adalah memekai wangi-wangian, mencukur rambut sebelum melaksanakan tahallul, melakukan hubungan suami istri, membunuh binatang serta larangan-larangan ketika ihram.

Itulah beberapa rukun haji dan tata caranya disertai dengan syarat, wajib dan sunnah haji serta beberapa larangannya.

Leave a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *